Postingan

Harapan

  Belakangan ini, hujan terus mengguyur kota cianjur. Dua hari berturut-turut tanpa henti membuat masyarakat resah dibuatnya, karena tak jarang di desaku pernah mengalami tragedi longsor yang membuat sebagian warga harus kehilangan rumah mereka, bahkan ada sampai yang terkena luka parah akibat jatuhan dari longsor tersebut.   Menjelang malam, hujan mulai reda. Aku ucapkan puji syukur kepada tuhan karena masih melindungi desaku. Sungguh, aku juga masih trauma dengan kejadian 6 tahun yang lalu, karena adanya guncangan dari dalam bumi yang membuat rumahku roboh. Memang bukan longsor yang mengakibatkannya, akan tetapi apapun bentuk bencana alam yang datang itu adalah hal yang paling menakutkan. Ya beginilah jika seseorang harus tinggal di pelosok desa yang berada di dataran tinggi, kita harus siap menerima apapun resikonya. Semenjak peristiwa gempa bumi itu, aku dan nenekku tinggal disebuah gubuk   bekas almarhum buyutku sendiri. Meskipun kecil tapi setidaknya kita berdua...
  “zalfa dirumah nenek sayang, sengaja ibu tinggal dulu” Aku sempat dibuat bingung kenapa zalfa harus ditinggal dirumah nenek. Aku sama sekali tidak mengerti dengan keadaan waktu itu. Malamnya kedua orangtuaku memanggil ku seperti ada hal yang ingin dibicarakan secara serius. Ternyata benar juga mereka mulai menanyakan sesuatu yang membuatku tersentak kaget “nit, sebentar lagi kan kamu penaikan kelas 4, kamu mau sekolah dimana?” “ya tetap di SDIT al-falah lah mah, yah” “kamu harus memilih, mau disurabaya atau di bandung?” “kenapa itu ditempat nenek semua? Memangnya kita akan pindah mah?” “iya kita akan pindah nak” “lalu rumah ini?” “ayah tetap disini” “kenapa pindah? Yaudah nita ikut mamah aja deh” “yaudah berarti kamu ikut mamah ke bandung yah, seminggu lagi kita akan pindah nit” Dari situ awal mula kesedihanku harus berpisah dengan teman-teman terutama aku akan berpisah dengan ayah. Aku selalu membayangkan bagaimana rasanya jika hanya hidup dengan ibu seoran...

Pisahnya ayah Ibu sungguh menyakitkanku.

     Hidup adalah pilihan. Namun ketika takdir berkata A, maka kita tidak bisa memilih lagi apa yang kita mau. Jika sudah terjadi, maka terjadilah takdir itu. Namaku nita anggraeni. Aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Walaupun sederhana, tapi aku belum pernah merasakan namanya keperihan hidup tanpa memiliki apa yang aku mau. Jika ayah tidak bisa mencukupiku untuk membeli sepeda, yang aku keluarkan hanya lah airmata tapi bukan berarti itu tandanya hatiku tergores luka. Ayah selalu tidak tega jika aku berlama-lama menangis. Ayah menjanjikan akan membelikan sepeda kepadaku pekan depan. Itulah cara ayah menenangkanku. Dulu aku tidak mengerti apa artinya susah kehidupan sehingga dengan membeli sepeda ayah dan ibu harus makan seporsi berdua. Tapi mereka selalu menanyakan hari ini aku mau makan apa.. dengan polosnya aku selalu meminta makanan yang menurutku enak.      Begitulah mereka. Mereka tidak pernah berkata tidak mempunyai uang tapi mereka selalu me...