Pisahnya ayah Ibu sungguh menyakitkanku.

    Hidup adalah pilihan. Namun ketika takdir berkata A, maka kita tidak bisa memilih lagi apa yang kita mau. Jika sudah terjadi, maka terjadilah takdir itu. Namaku nita anggraeni. Aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Walaupun sederhana, tapi aku belum pernah merasakan namanya keperihan hidup tanpa memiliki apa yang aku mau. Jika ayah tidak bisa mencukupiku untuk membeli sepeda, yang aku keluarkan hanya lah airmata tapi bukan berarti itu tandanya hatiku tergores luka. Ayah selalu tidak tega jika aku berlama-lama menangis. Ayah menjanjikan akan membelikan sepeda kepadaku pekan depan. Itulah cara ayah menenangkanku. Dulu aku tidak mengerti apa artinya susah kehidupan sehingga dengan membeli sepeda ayah dan ibu harus makan seporsi berdua. Tapi mereka selalu menanyakan hari ini aku mau makan apa.. dengan polosnya aku selalu meminta makanan yang menurutku enak.

    Begitulah mereka. Mereka tidak pernah berkata tidak mempunyai uang tapi mereka selalu mengusahakan apa yang aku mau. Menginjak usia 7 tahun aku dikaruniai seorang adik bernama “zalfatunnisa”. Disitu aku sangat bahagia sekali karena dirumah aku mempunyai seorang teman. Tapi beberapa bulan kemudian, entah apa permasalahannya ibu dan adikku pergi ke kampung yang mana tepatnya dikota bandung. Ibu mengunjungi rumah ibunya yang aku sebut nenek sedangkan aku dan ayah masih menetap dirumah. Aku bertanya kapan mereka pulang aku sudah rindu.. ayah hanya diam sambil mengatakan sabar. Semasa kecil aku sama sekali tidak mengerti raut wajah ayah itu sedang menandakan kesedihan. Yang aku tahu, mungkin ayah sedang tidak ingin bicara saja makannya banyak diam.

Seminggu kemudian ibu pulang kerumah tanpa membawa zalfa. Disisi lain aku senang akan kedatangan ibu, tapi disisi lain juga aku sangat sedih karena baru saja zalfa dirumah tapi ia sudah tidak ada dirumah.

“kemana zalfa bu?"

Bersambung...

Komentar