“zalfa dirumah nenek sayang, sengaja ibu tinggal dulu”
Aku sempat dibuat bingung kenapa zalfa harus ditinggal
dirumah nenek. Aku sama sekali tidak mengerti dengan keadaan waktu itu.
Malamnya kedua orangtuaku memanggil ku seperti ada hal yang ingin dibicarakan
secara serius. Ternyata benar juga mereka mulai menanyakan sesuatu yang
membuatku tersentak kaget
“nit, sebentar lagi kan kamu penaikan kelas 4, kamu mau
sekolah dimana?”
“ya tetap di SDIT al-falah lah mah, yah”
“kamu harus memilih, mau disurabaya atau di bandung?”
“kenapa itu ditempat nenek semua? Memangnya kita akan pindah
mah?”
“iya kita akan pindah nak”
“lalu rumah ini?”
“ayah tetap disini”
“kenapa pindah? Yaudah nita ikut mamah aja deh”
“yaudah berarti kamu ikut mamah ke bandung yah, seminggu
lagi kita akan pindah nit”
Dari situ awal mula kesedihanku harus berpisah dengan
teman-teman terutama aku akan berpisah dengan ayah. Aku selalu membayangkan
bagaimana rasanya jika hanya hidup dengan ibu seorang? Tanpa canda tawa ayah
lagi. Memang sudah ada via telfon tapi itu mungkin tidak bisa melepaskan
rinduku kepada ayah. Kenapa ayah dan ibu ini harus pisah rumah? Ada apa sebenarnya?
Tak terasa hari ini adalah hari perpindahanku, aku tak
sengaja melihat ibu dan ayah saling berpelukan menangis seperti tidak ingin
berpisah. Dibalik pintu, aku juga ikut menangis deras dan menahan suara agar
tidak terdengar mereka. Sepanjang jalan aku hanya bertanya-tanya kepada ibu
kapan kita bisa berkumpul kembali. Ibu hanya bilang suatu saat nanti. Ketika
itu aku belum mengerti apa makna dari kata suatu saat nanti. Aku hanya tahu
bahwa suatu saat nanti itu pasti akanada waktu untuk bisa bersama-sama lagi.
Seminggu sudah dirumah nenek, ada nya zalfa membuatku
sedikit demi sedikit sudah melupakan kesedihanku, zalfa pun tampaknya sangat
senang jika selalu ada dipelukan ibu, ditinggal sebentar oleh ibu saja zalfa
sudah menangis. Dasar bayi. Ketika siang, pasti ibu selalu menyuruhku untuk
tidur siang. Itu adalah hal yang paling menyebalkan dalam hidupku. Bagaimana
tidak, sedang asyik-asyiknya aku bermain dengan teman baruku, ibu menyuruhku
untuk tidur. Akhirnya seperti biasa aku memaksakan tidurku dan tidak tersadar
aku sudah tertidur pada saat itu juga.
Ketika bangun, aku mulai mencari-cari ibu kesetiap sudut
ruangan rumah. Tapi sialnya ibu tidak ada. Pikirku ibu mungkin ke warung
sebentar atau main ke rumah tetangga. Tapi sudah berjam-jam aku tunggu ibu
tidak juga kunjung pulang. Disitu aku sudah kesal dan khawatir mencari ibu. Aku
tidak bisa dalam beberapa waktupun tanpa melihat ibu. Ketika itu terdengar
suara pintu rumah terbuka aku segera lari bergegas dan berharap ibu pulang.
Tapi aku mulai kecewa karena yang datang bukanlah ibu melainkan nenekku sendiri
bersama adikku yang sedang diberada dipangkuan nenek. Adikku menangis tanpa
henti. Aku tidak terlalu focus akan tangisannya, yang aku tanyakan dimana ibu..
Tapi nenek sepertinya tidak mau jujur kepadaku. Matanya sayu
dan lemah untuk menatapku. Disitu aku mulai curiga dan tangisku pecah tetiba,
aku menaikan suaraku lebih keras
dimana ibu..
Komentar
Posting Komentar