Harapan

 

Belakangan ini, hujan terus mengguyur kota cianjur. Dua hari berturut-turut tanpa henti membuat masyarakat resah dibuatnya, karena tak jarang di desaku pernah mengalami tragedi longsor yang membuat sebagian warga harus kehilangan rumah mereka, bahkan ada sampai yang terkena luka parah akibat jatuhan dari longsor tersebut.  Menjelang malam, hujan mulai reda. Aku ucapkan puji syukur kepada tuhan karena masih melindungi desaku. Sungguh, aku juga masih trauma dengan kejadian 6 tahun yang lalu, karena adanya guncangan dari dalam bumi yang membuat rumahku roboh. Memang bukan longsor yang mengakibatkannya, akan tetapi apapun bentuk bencana alam yang datang itu adalah hal yang paling menakutkan. Ya beginilah jika seseorang harus tinggal di pelosok desa yang berada di dataran tinggi, kita harus siap menerima apapun resikonya.

Semenjak peristiwa gempa bumi itu, aku dan nenekku tinggal disebuah gubuk  bekas almarhum buyutku sendiri. Meskipun kecil tapi setidaknya kita berdua masih punya tempat untuk berteduh. Kalo ada yang bertanya kemana kedua orangtuaku, keduanya telah dipanggil ilahi. Ujian satu persatu silih berganti, tapi itu tidak membuatku berhenti untuk semangat hidup, aku harus berjuang sekuat mungkin untuk apapun itu.     

Dua hari lagi adalah seleksiku untuk mengikuti fully funded beasiswa ke luar negri, meskipun aku orang tidak punya, tapi guruku selalu memperjuangkan aku untuk bisa mendapatkan kehidupan yang baik. Mulai dari pakaian, biaya sekolah, dan uang jajan guruku yang menanggung semua. Namanya pak suharto, pak suharto bercerita dulu sewaktu kecil pernah dibantu nenekku,  sewaktu itu pak suharto sedang ditinggal ibunya pergi keluar kota. Karena tidak ada saudara dekat, akhirnya pak suharto dititipkan pada nenekku. Hal ini bukan sekali dua kali, akan tetapi hampir setiap sebulan sekali. Dari situ pak suharto mempunyai janji pada dirinya sendiri akan membantu keluarga nenekku. Alhamdulillah aku masih diberikan orang-orang baik disekitarku.

Pagi-pagi buta pak suharto sibuk untuk mengurusi berkas-berkasku. Sedangkan aku sibuk untuk mempersiapkan pidato yang aku presentasikan. Hari ini adalah hari-hari menegangkan. aku hanya bisa berharap penuh pada Allah agar Allah bisa meloloskan beasiswa itu.

Hari H sudah tiba, hari dimana jantungku mulai berdetak sangat kencang, hampir-hampir copot.

Pak suharto juga merasakan hal yang sama.  Disini aku bernadzar kepada diriku sendiri, jika aku lolos dalam seleksi ini, aku akan bekerja keras kedepannya agar bisa sukses untuk orang-orang yang kusayang terutama nenek dan pak suharto yang selalu mensupportku.

Namaku terpanggil, aku diberikan surat  undangan yang belum sempat dibuka. Aku bertanya-tanya apakah aku lulus atau tidak. Namun ketika kubuka suratnya, rasanya seperti petir yang menyambar di siang hari. Surat ini mengatakan kata “MAAF, ANDA BELUM LULUS”. Badanku langsung terkujur lemas tak berdaya. Hari ini adalah hari ku diuji kesekian kalinya.

               

               

Komentar